Belajar Arti Kehidupan dari “Bukan Pasar Malam”

“Apa yang lebih tragis dari sebuah kematian ? Yaitu kerindukan dan kehilangan akan orang yang ditinggalkan.”

Kiranya hal itu tepat untuk menggambarkan buku yang satu ini. Buku yang berjudul “Bukan Pasar Malam” karangan Pramoedya Ananta Toer ini merupakan salah-satu buku yang saya pilih ketika membeli buku di toko buku.

Setelah sebelumnya kami menonton film “Benyamin Biang Kerok” di Bioskop. Kami pun melanjutkan untuk berkeliling-keliling toko buku untuk refreshing mata sejenak sambil melihat-lihat buku terbitan baru.

Sayangnya untuk tahun ini belum ada buku terbitan baru yang menarik perhatian saya. Walaupun sebetulnya saya menanti-nantikan buku terbaru karangan Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Yang Fana Adalah Waktu” tapi sangat disayangkan buku tersebut belum masuk ke toko buku yang saya datangi.

Perhatian saya justru tertuju kepada buku Pram “Bukan Pasar Malam” dan Albert Camus dengan judul “Pemberontak” yang ditempatkan di rak buku fiksi. Dua buku tersebut merupakan buku-buku yang ditulis oleh para pengarang yang terkenal dalam dunia sastra dan filsafat.

Sebelum membaca “Bukan Pasar Malam” terlebih dahulu saya telah membaca roman termahsyur dari Pram yaitu Tetralogi Pulau Buru ketika liburan akhir semester kelas X kemarin. Jujur saja saya merasa kagum bahkan ketika mengetahui latar belakang dari pembuatan roman Tetralogi tersebut.

Sangat tidak bisa dibayangkan bagaimana Pram meracik cerita sekompleks itu dengan sumberdaya yang terbatas selama dalam masa tahanan politik di dalam fasilitas Inrehab Pulau Buru. Bahkan dengan cerita yang sangat mendetail dan dengan tokoh yang sangat banyak beliau bisa membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memukau dan telah diterjemahkan hingga mancanegara.

Hal itulah yang membuat saya tidak ragu dalam memilih buku “Bukan Pasar Malam” ini sebagai bahan bacaan saya. Harganya pun juga terbilang murah untuk kantong pelajar, mungkin setara dengan harga buku komik yang beredar saat ini.

Buku “Bukan Pasar Malam” sendiri ditulis oleh Pram ketika beliau masih muda, kira kira 6 tahun setelah Indonesia merdeka. Buku ini pertamakali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1951.

Dalam buku ini merupakan cerita singkat mengenai pengalaman hidup seorang perwira pasca revolusi tahun 1945. Dimana Pram menggambarkan tokoh tersebut sebagai tokoh Aku.

Aku merupakan seorang perwira yang berasal dari Blora dan ditugaskan di Ibu Kota Jakarta. Setelah kemerdekaan Republik, peran tentara khususnya tentara berpangkat rendah menjadi tidak dibutuhkan hingga akhirnya tokoh Aku pun bekerja di perpustakaan dan hidup dengan sangat sederhana.

Suatu waktu Aku mendapat surat dari Pamannya yang mengatakan bahwa Ayahanda nya sedang mengalami sakit keras. Hal itu pun mendesak beliau untuk menemui Ayahanda nya, akan tetapi beliau tidak memiliki uang untuk ke Blora sehingga harus mencari pinjaman uang ke teman-teman seperjuangannya.

Ketika menemui Ayahnya, ia mendapati bahwa sakit TBC yang diderita Ayahnya sudah terlampau kronis. Bahkan menurut dokter akan lama menyembuhkannya. Ia pun harus mendapati kenyataan bahwa Ayahnya tidak bisa dirawat lebih baik lagi di kota lantaran biaya yang mahal untuk sanatorium, sementara Ayahnya hanya bekerja sebagai Guru dengan gaji yang rendah.

Padahal, selama masa perjuangan. Ayahanda banyak berperan dalam perjuangan kemerdekaan, walaupun disatu sisi ia juga bekerja kepada Belanda sebagai staf pengajar. Ayahanda memiliki banyak jasa dalam pergerakan bawah tanah dan perjuangan kemerdekaan di kota Blora.

Dengan banyak pengorbanan yang ia berikan, sempat Ayahanda ditawari untuk menjadi wakil rakyat. Tetapi karena rasa nasionalisme dan pengabdiannya yang tinggi sebagai Guru, ia pun menolak tawaran tersebut. Hingga akhirnya Ayahanda terpental dari pejuang kemerdekaan dan harus berakhir di ranjang rumah sakit umum dengan TBC yang dideritanya.

Banyak cerita-cerita sisipan yang mewarnai jalan cerita dari buku “Bukan Pasar Malam” ini. Buku ini sangat menarik lantaran membahas bagaimana keadaan para pejuang-pejuang kecil pasca kemerdekaan yang seakan akan menjadi dilupakan oleh pemerintahan yang baru berdaulat.

Pantaslah jika Romo Y.B. Mangunwijaya memfavoritkan buku ini dari sekian banyak tulisan-tulisan Pram. Di akhir cerita buku ini pun juga terdapat kalimat menarik yang mungkin dapat menjadi refleksi kita dalam menjalani kehidupan.

“Dan di dunia ini, manusia berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… Seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana”. – Pramoedya Ananta Toer.

Selasa, 20 Maret 2018


Azmi Nawwar

Seorang penulis pemula yang menulis sambil iseng-iseng di rumah. menulis di azmi.my.id, rootix.web.id dan Kompasiana. saat ini sebagai pelajar di salah satu sekolah negeri dan masih akan terus belajar,sangat tertarik akan dunia Filsafat,Sastra,Sejarah dan Komputer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *