Benyamin Biang Kerok dan Realitas Perfilman di Indonesia

Minggu, 18 Maret 2018

Minggu pagi ini adalah minggu liburan sekolah ketika kelas XII sebentar lagi akan mengadakan ujian UASBN. Untuk memanfaatkan momen itu, kami sekeluarga ingin memanfaatkan waktu liburan untuk menonton film yang menjadi perbincangan hangat akhir akhir ini. yaitu film seri bersekuel “Benyamin biang kerok” karya Falcon Pictures

Sebetulnya pada awal kali menjajaki kaki di sebuah mall dibilangan Depok, kami tidak bermaksud untuk menonton film. Tetapi karena didasari atas rasa penasaran akan film ini maka kami pun mencoba menontonnya.

Setelah Falcon pictures sukses mengadaptasi film warkop DKI dalam versi remake nya. Kini mereka mencoba untuk mengambil langkah yang sama yaitu dengan mengadaptasi film Benyamin Sueb, seorang tokoh sekaligus pelawak khas kebanggan warga Betawi.

Film remake yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Meriam Bellina tersebut sebetulnya mendapat banyak antusiasme di masyarakat setelah kemunculan trailer-nya baik di TV maupun Internet. Tetapi setelah kemunculannya justru film ini mendapat banyak komentar baik positif maupun negatif didalamnya.

Film ini menceritakan bagaimana seorang tokoh Benyamin S. atau disebut sebagai Pengki merupakan seorang anak dari keluarga Betawi yang sangat bertolak belakang. Ibunya merupakan seorang Direktur dari sebuah perusahaan IT ternama di Jakarta sementara ayahnya merupakan seseorang yang bekerja sebagai supir bemo.

Hubungan keluarga pengki tidak berjalan harmonis lantaran ayah atau akrab disapa “babeh” tidak mengindahkan modernitas dari kultur budaya Betawi, lebih-lebih ditambah dengan ibu nya yang suka menggunakan jasa guru spiritual yang menurut ayahnya sesat. Hal itu membuat keluarga ini tidak berjalan harmonis dan ayah serta ibunya memutuskan untuk berpisah rumah.

Pada awal film diceritakan bagaimana Pengki selain sebagai anak gedongan, ia juga berprofesi sebagai mata-mata bersama teman-temannya yang tinggal di rusun. Ia berusaha mencuri uang dari sebuah kasino milik konglomerasi besar di Indonesia yaitu Sa’it tonirojim. Orang yang sama yang telah memeras warga rusun untuk menggusur rumahnya.

Setelah berhasil merampas uang kasino dan menebus rusunnya, permasalahan bertambah kompleks dengan kemunculan sosok Aida yaitu seorang artis yang dicintai oleh Pengki. Hal itu menjadi rumit lantaran Aida juga ternyata telah menandatangani kontrak dengan bos Sa’it dan mereka berencana untuk menikah, walaupun Aida menolaknya tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Hal tersebut mendorong Benyamin untuk menyelamatkan Aida dari Bos Sa’it

Film yang kental akan nuansa teknologi ini terkesan begitu absurb dan tidak realistis. Memang bukan film komedi namanya jika tidak absurb, tetapi faktanya absurb dan realis juga terdapat batasan-batasannya tersendiri. Seperti bagaimana seorang tokoh Benyamin S. yang digambarkan sebagai mata-mata ataupun anak dari keluarga kaya. Sangat bertolak belakang dari versi film Benyamin asli pendahulunya, Mungkin hal itu dimaksudkan sebagai upaya pembaruan dari jalan cerita yang dibuat sendiri oleh pihak Falcon Pictures.

Kehadiran Reza Rahardian sebagai pemeran utama yang memerankan Benyamin juga terkesan overacting dan tidak cocok dengan mimik dari tokoh Benyamin sueb, memang dari gestur akan terlihat menjiwai tapi karena sikap yang overacting ini menyebabkan mimik yang diperankan menjadi dilebih lebihkan (hiperbolis). Seorang Benyamin S. yang diperankan oleh Reza Rahardian dalam filmnya malah lebih terlihat garing.

Didalam film Benyamin Biang Kerok ini juga termuat materi materi yang sarat dengan isu politik dan isu sosial di masyarakat saat ini. Mulai dari kasus korupsi, permainan penguasa, kehidupan malam, bahkan juga memuat bagaimana 2 tokoh politik yang kontroversial saat ini seperti Ahok dan Djarot juga terlibat didalamnya. Hal itu memang bagus dalam pembuatan suatu karya film. Tetapi alangkah baiknya pihak Falcon Pictures tidak memasukkan isu-isu politik yang sensitif dan malah lebih terkesan seperti Black Campaign atau Politik Praktis.

Film dengan rating D17+ ini rencananya akan dibuat dengan sekuel lanjutan yaitu Film Benyamin Biang Kerok Beruntung pada awal Desember tahun ini. Langkah awal pihak Falcon Pictures dalam keinginannya untuk menyegarkan kembali film-film lama masterpiece di Indonesia sangat patut diapresiasi, tetapi Pihak Falcon Pictures harusnya belajar dari kesalahan kesalahan sebelumnya agar film yang digarapnya menjadi lebih berbobot dan diterima dimasyarakat kita.

Salam.


Azmi Nawwar

Seorang penulis pemula yang menulis sambil iseng-iseng di rumah. menulis di azmi.my.id, rootix.web.id dan Kompasiana. saat ini sebagai pelajar di salah satu sekolah negeri dan masih akan terus belajar,sangat tertarik akan dunia Filsafat,Sastra,Sejarah dan Komputer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *