Bunga rampai cerita dalam tetralogi pulau buru

Pada kesempatan ini saya ingin membahas terkait dengan buku novel sastra dengan penulis yang termahsyur akan karya-nya, Yaitu buku novel tetralogi pulau buru yang dikarang oleh Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi ini meliputi buku-buku yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Menarik sekali ketika awal saya membaca buku ini, yaitu dimulai dari Bumi Manusia yang merupakan prolog dari tetralogi ini. saya merasa seperti dibawa kembali ke zaman dimana pribumi saat itu belum mengenal arti dari kebebasan dan nasionalisme, tetapi sebagian dari mereka yang terpelajar mulai meraba-raba akan hal itu, seperti misalnya T.A.S atau dalam Novel tersebut lebih sering disebut Mingke.

Mingke yang merupakan seorang anak bupati, memiliki pandangan yang sangat modern dijaman-nya. bahkan bisa dikatakan ia terlalu fanatik terhadap segala sesuatu kemajuan yang berasal dari Eropa, bahkan cita-cita yang ingin dicapai adalah menjadi manusia bebas. itu merupakan cita-cita yang tidak umum dizaman penghamba gubermen waktu itu. Pendidikan Mingke diceritakan berawal dari H.I.S di semarang, kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan di S.T.O.V.I.A untuk belajar sebagai dokter.

Sebelumnya Mingke menikah dengan Annelies, anak dari Nyai Ontosoroh. ia menikah secara islam atas dasar suka sama suka, tetapi tidak berlangsung lama ketika suatu perkara menimpa mereka yang membuat Mingke harus menelan pahit atas kenyataan Eropa yang selama ini ia banggakan. hal ini menjadi titik tolak Mingke untuk bersikap melawan terhadap penindasan, khususnya terhadap kaum pribumi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial waktu itu.

Dalam novel Anak Semua Bangsa, diceritakan Mingke bersama Nyai Ontosoroh mencari keadilan didalam perkara yang menimpa mereka di persidangan Hindia Belanda terkait hak asuh Annelies, Mingke pun melakukan perlawanan dengan cara menulis di surat-surat kabar terkait kesewenang wenangan yang menimpa dirinya. Ia dan Nyai Ontosoroh mendapatkan simpati dari Massa pribumi, banyak yang mendukungnya dipersidangan dan ada sebagian dari mereka yang mempertanyakan persamaan Hak pribumi didepan umum, seperti halnya Pemerintahan kolonial terhadap bangsa China, dan Jepang. tetapi nasib berkata lain, Mingke dan Nyai Ontosoroh kalah di pengadilan dan Annelies dibawa ke Nederland. walaupun Annelies sudah berada di seberang samudera, tetapi Mingke dan Nyai masih mengusahakan untuk bisa menyelamatkan Annelies kembali dari cengkraman putusan pengadilan yang memberatkan. beberapa bulan/tahun setelahnya datang berita buruk dari nederland yang mengabarkan bahwa Annelies sudah tiada, Mingke dan Nyai mendapat duka yang mendalam karena hal tersebut. Maurits Mellema yang merupakan pemenang pengadilan Hindia Belanda tersebut datang ke rumah Nyai Ontosoroh untuk mengembalikan barang2 peninggalan Annelies dan mengambil alih aset milik Nyai Ontosoroh.

Dalam novel Jajak Langkah, merupakan awal dari Mingke untuk merintis sebuah gerakan di Hindia Belanda. dalam novel tersebut diceritakan bahwa ia pergi ke betawi untuk meneruskan sekolah di S.T.O.V.I.A, dan bertemu Ang San Mei yang merupakan teman dari Khow Ah Soe, Ang San Mei merupakan seorang tokoh pergerakan dan aktivis yang menuntut Reformasi di Republik China sana. Mingke akhirnya jatuh cinta kepada Ang San Mei dan Menikah.

sebetulnya masih banyak lagi yang ingin diceritakan, tetapi alangkah baiknya diakhiri sampai disini saja. nanti jadi spoiler dan gak menarik lagi untuk dibaca bagi pembaca yang berminat dengan buku ini. intinya saya menyukai ide cerita dari tetralogi buku ini, dan merekomendasikannya untuk kalian semua, jangan lupa beli buku yang asli dan selamat membaca..!

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *