Catatan Perjalanan ke Pelabuhan [Fiksi]

Kapal Nelayan
Tanjung Priok

“Kapal- kapal itu bersandar di pelabuhan-pelabuhan kota, Menjual sedikit berkah yang mereka terima dari laut yang dikasihinya. Tak jarang pula yang pulang dengan tangan hampa karena nasib tak memihak mereka.”

Pagi-pagi buta ketika bintang masih berpendar diatas cakrawala dengan benderang, paman telah berangkat menuju kelaut. Ia pergi tak sendiri melainkan dengan beberapa karibnya untuk pergi mengadu nasib di lepas samudera.

Memang menjadi nelayan bukanlah sekedar hal yang mudah, banyak hal yang harus dikorbankan. Terutama berkorban dengan waktu bersama keluarga di rumah.

Ketika hendak melaut paman selalu mengecup kening anak dan istrinya seraya berdoa agar diberi keselamatan dan rezeki yang berlimpah ruah dari khalik pencipta alam semesta. Memang kecupan itu teramat sederhana, tapi memberi semangat yang besar bagi paman dalam mencari rezeki, sebab dari tangannya itulah ia bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya.

Sebelum berangkat paman terlebih dahulu menyiapkan perbekalan, mulai dari jaring, senter, hingga bekal makanan ia bawa agar bisa bertahan sampai nanti siang. Selepas itu ia langsung berkumpul di pinggir dermaga dengan kawan kawannya.

“Bagaimana, semuanya sudah siap ?” Tanya Paman. Tiga orang lainnya mengangguk sebagai tanda membenarkan. Lalu mereka berdoa dengan khidmat, dengan diiringi dinginnya laut waktu itu mereka meminta kepada sang pencipta agar diberi rezeki dan keselamatan selama hendak melaut. Lalu seorang demi seorang mulai memasuki kapal.

Perjalanan yang ditempuh paman sangat gelap gulita. Dengan berbekal pelita dan lampu darurat paman menyoroti jalan di depan agar tidak menabrak karang. Terlihat dari kejauhan beberapa pelita berjalan beriringan sebagai tanda bahwa kawan-kawan senasib berjalan bersama mereka.

Semakin lama, paman semakin jauh ke tengah. Biasanya ketika dulu paman selalu mencari ikan tak jauh dari pelabuhan karena populasi ikan melimpah ruah. Tapi itu dulu sekali waktu orang-orang kota tak mengusik pantai di daerah itu.

Sekarang tidak sama seperti dahulu, Tambang pasir dan emas yang berada tak jauh di pinggir pantai pelabuhan telah merusak ekosistem laut di sekelilingnya. Membuat habitat ikan dan hewan laut lainnya jadi tercemar, mereka pun jadi lari ke tengah laut.

Sudah bertahun tahun paman bersama nelayan yang lain protes terhadap pemerintah terkait aktivitas penambangan itu, tetapi nampaknya pemerintah seperti tutup kuping. Tak mau menggubris, bahkan membiarkan aktivitas itu terus berlanjut.

Pemerintah nampaknya tergiur dengan dana bantuan yang perusahaan itu janjikan, sehingga paman dan nelayan lain jadi tidak dipedulikan. Tapi paman dan lainnya masih bersabar, ia berharap agar mungkin suatu saat pemerintah dapat terketuk hatinya terhadap nasib paman dan nelayan lainnya.

[To be Continued]


Azmi Nawwar

Seorang penulis pemula yang menulis sambil iseng-iseng di rumah. menulis di azmi.my.id, rootix.web.id dan Kompasiana. saat ini sebagai pelajar di salah satu sekolah negeri dan masih akan terus belajar,sangat tertarik akan dunia Filsafat,Sastra,Sejarah dan Komputer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *