Cerpen: Yono dan Cerita dari pasar

Pagi-pagi sekali Yono dipusingkan dengan tingkah laku adiknya, Toni. Ia berkali kali menangis karena susu formula yang biasa diberikan oleh mamah telah habis dari Minggu yang lalu. Maklumlah, Toni yang masih balita memang membutuhkan susu untuk perkembangan dan pertumbuhannya saat ini. Akan tetapi masalah ekonomi yang saat ini mendera keluarga Yono membuat adiknya Toni jadi kena imbasnya.

Yono merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara, Ibunya bekerja sebagai buruh cuci yang menawarkan jasanya ke komplek-komplek besar di depan rumah, Ayahnya telah lama wafat akibat penyakit TBC yang telah lama dideritanya, Sementara Abang tertuanya hingga saat ini tak tahu dimana keberadaanya setelah minggat dari pesantren tempat ia dititipkan untuk belajar agama.

Sempat waktu itu Ayah akan dibawa ke rumah sakit, tapi beliau sendiri menolak karena takut akan menjadi beban keluarga akibat tak mampu membayar biaya rumah sakit. Maklumlah keluarga kami bukan keluarga yang mampu untuk membayar iuran BPJS, untuk makan sehari-hari pun kami masih bingung dan memelas ke warung seberang untuk diberikan keringanan berhutang.

Yono sendiri pernah sekolah hingga tamat SMP. Ia tak berani terus terang ke ibunya bahwa ia sebenarnya ingin melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK, akan tapi ibunya terlalu memberikan harapan yang besar bahwa saat ini Yono seharusnya bisa membantu meringankan pekerjaanya dalam mengurus keluarga. Mau tak mau Yono harus mengesampingkan impiannya tersebut dan memprioritaskan baktinya kepada orangtua.

Sehari-hari, Yono biasanya bekerja dipasar sebagai buruh angkut. Menurutnya hanya itu pekerjaan yang menjanjikan untuk dirinya saat ini. Gaji yang tetap dan dapat makan siang jadi alasan untuk terus melanjutkan pekerjaan ini walau ia sendiri pun tahu pekerjaan ini perlahan-lahan menghancurkan tubuhnya. Ia lebih rela harus merasa pegal dan capek setiap hari ketimbang menjadi pengamen atau tukang sol sepatu dengan bayaran yang tidak menentu.

Terkadang, jatah makan siang yang Yono terima ia bawa pulang kerumah untuk makan bersama keluarganya. Itu biasa terjadi kalau-kalau sudah akhir bulan dan gaji yang ia terima sudah ludes untuk biaya kontrakan rumah dan susu adiknya. Ia musti berhemat dan kadang pula harus berpuasa untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Di pasar, Yono bergaul dengan banyak orang dari beragai macam latar belakang. Ada yang berasal dari rantauan sumatera, ada yang berasal dari Jawa, ada yang berasal dari Sulawesi, dan NTT. Semuanya bersatu dan campur aduk didalam lingkungan pasar. Sebagian besar mereka kesini dengan tujuan untuk berdagang, karena jika mereka berdagang di kota biaya hidup yang diperlukan terlampau tinggi dan mereka sudah capek dengan biaya retribusi liar yang tidak masuk akal.

Salah satu teman Yono di pasar adalah Tiko, ia berasal dari rantauan yang jauh, terlihat dari perawakannya yang menandakan bahwa ia berasal dari wilayah timur Indonesia. Walaupun perawakannya timur, tetapi yang jadi keanehan adalah Tiko memiliki logat Jawa yang kental sekali. Ketika awal pertamakali bertemu pun Yono juga merasa kaget karena logat yang dimiliki Tiko sangat berbeda dengan orang timur pada umumnya. Setelah kenal cukup lama baru diketahuilah bahwa sebelum lama tinggal disini Tiko terlebih dahulu telah lama tinggal di Surabaya selama 10 tahun.

Di Pasar Tiko lebih memilih untuk mengamen di Angkot-angkot atau Kopaja. Bukan karena ia tak mampu jadi pekerja kasar atau tak mampu berdagang, melainkan ia sangat mencintai musik dan merasa jiwanya hanya untuk mengabdi kepada musik.

Kecintaanya kepada lagu-lagu bertemakan keadaan sosial seperti lagu Iwan Fals dan Slank membuat Tiko menjadi sosok yang sangat pemberontak. Ia melihat dunia dari sisi-sisi yang tidak biasa dilihat oleh orang banyak, yaitu dari sisi penderitaan dan kesejahteraan.

Pernah sekali waktu Yono dibuatnya begadang sampai pagi hanya untuk mendengarkan curhat si Tiko yang mempermasalahkan apresiasi musik masyarakat saat ini. Ia merasa bahwa pengamen dianggap sebagai hama dan tak ubahnya dengan Gepeng yang ada di pasar, terkadang orang juga menyamakan antara musisi jalanan dengan anak punk yang liar.

To be continued.

 

 

 


Azmi Nawwar

Seorang penulis pemula yang menulis sambil iseng-iseng di rumah. menulis di azmi.my.id, rootix.web.id dan Kompasiana. saat ini sebagai pelajar di salah satu sekolah negeri dan masih akan terus belajar,sangat tertarik akan dunia Filsafat,Sastra,Sejarah dan Komputer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *